Hai! Salam sharingaddicted. Sharing is caring. Sharing is fun. Perkenalkan, saya Fajar. Saya adalah shareaddict kreatif anda. Pada sesi ini, saya ingin menjelaskan secara sederhana apa itu kreativitas. Sudah siap? Oke, mari kita mulai..

Ada yang masih ingat sesi kita sebelumnya tentang novelty? Yup, novelty bisa diartikan sebagai tingkat kebaruan dari suatu produk dari sisi manapun termasuk bahan baku, teknik produksi, desain kemasan, dan metode pemasaran. Biasanya novelty akan menyebabkan perasaan terkejut atau takjub.

Oya masih ingat ga kalo di sesi yang lalu saya juga menunjukan bahwa rambut mohawk memiliki tingkat kreativitas yang lebih tinggi daripada rambut botak ala militer. Padahal rambut mohawk dapat ditelusuri keberadaannya hingga 600 tahun sebelum Masehi. Sedangkan rambut cepak ala militer baru populer di PD I. Dengan kata lain, terkadang tingkat kebaruan bukan satu-satunya faktor penentu kreativitas suatu barang atau karya. Jadi apa lagi dong faktor selain novelty?

Selain novelty, faktor lain penentu nilai kreativitas sebuah karya adalah adanya elaborasi dan sintesis. Apa tuh elaborasi dan sintesis? Sekarang gini, menurut anda apa perbedaan gaya rambut mohawk dengan rambut cepak ala militer? Iya benar.. Umumnya orang yang saya tanya menjawab lebih atraktif, lebih ekspresif, dan lebih rumit pengerjaannya daripada rambut cepak. Yup inilah yang disebut elaborasi dan sintesis. Biasanya terkait erat dengan tingkat manipulasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah karya yang elegan dengan nilai estetika yang tinggi.

Hal ini juga bukan hanya berlaku buat tampilan luar aja lho tapi juga berlaku untuk isi dari suatu produk. Misalkan saja handphone. Mana yang menurut anda memiliki nilai kreativitas lebih besar? Smartphone dengan kustomisasi aplikasi berbasis internet ATAU featured phone yang aplikasi di dalamnya tidak dapat dikustomisasi dan bahkan tidak terkoneksi dengan internet? Nah iya khan.. Anda pasti menjawab smartphone memiliki nilai kreativitas yang lebih besar dibandingkan featured phone.

Hal ini berlaku untuk semua produk baik barang maupun jasa termasuk buat anda yang berbisnis di bidang kuliner. Anda pasti sependapat bahwa tingkat kreativitas dari kacang goreng tidak setinggi tingkat kreativitas BANDUNG MAKUTA dong.. (tambahkan teks di layar, “lho malah endorse..”)

Oke, jadi selain novelty atau tingkat kebaruan, nilai kreatif dari suatu produk juga ditentukan oleh seberapa jauh sebuah produk mampu menggabungkan beragam elemen yang berbeda secara indah dan elegan. Lho kok ada indah dan elegannya Mas? Iya percuma dong kalo anda punya smartphone canggih tapi setiap komponennya berceceran di mana-mana? Justru itu.. Tingkat keindahan dari produk yang rumit menunjukkan tingginya kemampuan sang kreator untuk mengkombinasikan berbagai elemen yang berbeda menjadi satu kesatuan yang utuh.

Jadi produk dengan nilai kreativitas tinggi biasanya membutuhkan sistem atau proses penciptaan yang lebih rumit. Inilah yang disebut sebagai elaborasi dan sintesis. Gitu deh…

Nah.. konsep Ini juga berlaku buat sektor jasa lho.. Misalnya bandingkan proses yang berlangsung di dapurnya restoran fast food dengan proses yang berlangsung di kantin konvensional. Mana yang terlihat lebih rumit tapi tetap terlihat rapi dan terorganisir? Pasti dapurnya McDonnald khan..? (tambahkan teks di layar, “lha endorse lagi..”)

Oke kita simpulkan ya. Selain tingkat kebaruan, tingkat kreativitas juga ditentukan oleh tingkat elaborasi dan sintesis dari produk yang bersangkutan. Jadi untuk mengetahui apakah produk anda sudah cukup kreatif atau belum, anda bisa melihat apakah produk anda tetap tampak indah dan elegan meskipun sebenarnya sangat rumit. Kalo iya, berarti bisa jadi produk anda memiliki tingkat kreativitas yang tinggi. Gimana menarik khan? Tapi tingkat kebaruan, elaborasi, dan sintesis aja ga cukup lho.. Masih ada satu hal lagi yang saya sisakan buat sesi kita selanjutnya. Jadi tetap ikuti pembahasan saya ya hanya di sharingaddicted where sharing is caring, sharing is fun!

Jangan lupa untuk baca juga bahan bacaaan menarik lainnya seperti:

Contoh Penelitian Deskriptif Mengenai Strategi Beriklan di Media Televisi