Hallo Shareaddict apa kabar, SALAM ILMU PENGETAHUAN yah..

Kali ini shareaddict Manda akan menjelaskan Sejarah Pengambilan Keputusan..seru loh..simak yah..

Sejarah Teori Pengambilan Keputusan

Dimulai dari pertengahan abad lalu, Chester Barnard, seorang pensiunan perusahaan Telepon yang juga penulis “The Function of the Executive” mengadopsi istilah “Decision Making” alias pengambilan keputusan dari kamus administrasi publik ke dalam dunia bisnis untuk menggantikan istilah-istilah yang mempunyai arti sempit seperti “resource allocation” dan “policy study”. Studi pengambilan keputusan melibatkan disiplin ilmu lain seperti matematika, sosiologi, psikologi, ekonomi, ilmu politik dan lain sebagainya. Para filsuf merenungkan keputusan dan nilai-nilai keputusan yang kita ucapkan, sejarawan membedah pilihan keputusan yang diambil oleh para pemimpin T dalam situasi kritis. Keputusan yang bagus tidak menjamin hasil yang bagus, namun perkembangan pengetahuan dalam mengelola resiko, pemahaman perilaku manusia dan kemajuan teknologi mendukung kita sebagai manusia untuk terus mengembangkan pengambilan keputusan dalam banyak situasi, termasuk pada situasi yang kompleks.

Herbert Simon mengatakan bahwa selama bertahun-tahun, kita terus menerus mengahadapi kendala baik kontekstual maupun psikologis pada kemampuan kita dalam membuat pilihan optimal. Situasi yang kompleks, waktu yang terbatas, kekuatan mental H yang tidak memadai pengambilan keputusan mengurangi kemampuan rasional atau istilahnya “bounded rationality”. Sementara, lanjutnya, orang akan bisa membuat keputusan yang rasional secara ekonomi jika mereka bisa mengumpulkan cukup informasi. Pendapat lainnya, Antonio Damasio mengatakan mustahil keputusan itu bisa dibuat tanpa melibatkan emosi. Framing yang salah, kesadaran yang terbatas, optimisme yang berlebihan bisa meningkatkan kepercayaan diri kita terhadap pilihan kita.

Menghadapi ketidaksempurnaan pengambilan keputusan, meskipun kita tidak bisa mencapai hasil yang optimal, namun setidaknya menghasilkan keputusan yang dapat diterima yah. Gerd Gigerenzer berpendapat jika kita dalam kondisi terbatas baik waktu maupun pengetahuan, setidaknya E kita menguasai heuristik sederhana yang ia sebut sebagai penalaran “FAST and FRUGAL” alias Cepat dan Hemat. Begitu pula Amitai Etzioni  yang mengusulkan teknik pengambilan keputusan sederhana  nonheroic namun populer seperti tentatif, delay (penundaan) dan hedging (lindung nilai).

Peluang..Peluang..Peluang

Resiko adalah hal yang tidak bisa kita hindari dalam setiap keputusan. Bagi kebanyakan orang, pilihan dalam kehidupan sehari-hari terlihat kecil. O Berbeda dengan skala korporat yang jika saja terjadi kesalahan pengambilan keputusan, kerugian yang dihasilkan bisa sangat besar dan kondisi yang win-win saja bahkan memerlukan “biaya peluang” dalam bentuk usaha melobi kesana kemari.

Untuk membuat keputusan yang baik, perusahaan harus dapat menghitung dan mengelola risiko yang mengikutinya. Saat ini, sudah banyak alat maupun aplikasi yang bisa membantu perusahaan untuk melakukan hal tersebut, tapi tahukah bahwa ratusan tahun lalu, kita sudah mempunyai alat manajemen risiko berupa IMAN, HARAPAN dan DUGAAN?. Hal itu karena risiko adalah permainan angka, karena jauh sebelum abad ke-17, pemahaman manusia terhadap angka R  hanya sebatas pengetahuan umum saja. Pada tahun 1650, barulah matematikawan Prancis Blaise Pascal dan Pierre de Fermat mengembangkan sebuah cara untuk menentukan setiap hasil kemungkinan dari permainan sederhana yang dinamakan dengan Balla. Dan tidak sampai satu abad lamanya, seorang ilmuwan Swiss Daniel Bernoulli menemukan apa itu kondisi random, dari sanalah manajemen risiko awalnya dibahas. Bahkan sebelum perang dunia pertama berakhir, ilmu mengenai resiko sudah mendapatkan tempat dalam analisis ekonomi.

Di tahun 1921, Frank Knight membedakan antara resiko, kondisi ketika kemungkinan hasil bisa diketahui  (certainty) dan kondisi yang hasilnya tidak mungkin bisa ditentukan (uncertainty). Dua dekade kemudian, John Von Neuman dan Oskar Morgenstern mengemukakan dasar-dasar game theory (Teori Permainan) yang membahas situasi Y dimana keputusan seseorang dipengaruhi oleh “live variables” alias keputusan orang lain.

Saat ini, tentu saja, perusahaan mencoba untuk mengetahui sebanyak mungkin cara meminimalisir resiko dengan pendekatan sosial maupun teknologi, menerapkan teknik modern seperti pasar derivatif, perencanaan skenario, peramalan bisnis dan opsi nyata. Tetapi saat kekacauan terjadi, kemenangan yang terjadi atas kendali (power), maka penemuan matematika selama berabad-abad “can do only so much” (tidak ada artinya).

Teringat ucapan seorang novelis G.K Chesterton bahwa “Hidup adalah jebakan bagi para ahli logika” dan “Kehancurannya terjadi pada Menunggu“.

Seru kaaaan…ikui lanjutannya yah di Pendahuluan Lanjutan