Oleh Dini Turipanam Alamanda, STp, MSM

Setiap keputusan yang diambil pada tingkat manapun haruslah memperhatikan kebutuhan sekeliling yang terpengaruh oleh keputusan konflik, dan oleh karena itu resolusi konflik merupakan bagian dari proses pengambilan keputusan. Seberapa baik konflik diselesaikan tergantung pada keahlian dan karakter kepemimpinan pengambil keputusan.

Keputusan apa pun yang diambil ditujukan untuk menyeimbangkan kepentingan lawan dan pada dasarnya merupakan alokasi sumber daya bersama di antara kelompok yang berbeda.

Intinya di sini adalah bahwa di setiap organisasi ada sumber daya langka yang perlu dialokasikan di antara kelompok-kelompok yang bersaing dan oleh karena itu pengambil keputusan harus memastikan bahwa semua kebutuhan dan empati dari berbagai kelompok dipertimbangkan saat membuat keputusan.

Karena sebagian besar keputusan melibatkan beberapa komponen emosional, pembuat keputusan harus sangat peka terhadap kebutuhan orang-orang yang dipengaruhi oleh keputusan tersebut.

Kebanyakan orang berpikir, mereka berdiskusi, berdebat atau memikirkan tindakan terbaik yang harus diambil lalu bertindak. Jika kita memperhatikan apa yang terjadi di dalam diri kita saat mencoba membuat keputusan, menentukan jalur terbaik atau mengetahui apa yang benar untuk kita, merupakan proses yang sangat berbeda.

Manajemen konflik, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan adalah topik yang umumnya dianggap berbeda, namun sebenarnya saling terkait sedemikian rupa sehingga digunakan bersamaan untuk menghasilkan solusi yang paling baik. Untuk mencapai hasil terbaik dari sebuah masalah yang berisi informasi memadai, terdapat beberapa langkah pemecahan masalah biasanya digunakan. Langkah-langkah tersebut anatara lain:

  1. Meneliti masalah;
  2. Menguraikan masalah;
  3. Mendeteksi alasan utama yang memungkinkan terjadinya masalah;
  4. Mengidentifikasi serangkaian teknik untuk menerapkan, dan hasilnya;
  5. Menghasilkan pilihan alternatif melalui proses seperti brainstorming, diskusi antar kelompok dan proses lainnya;
  6. Memilih metode paling sederhana yang bisa menyelesaikan akar permasalahan;
  7. Menerapkan metode yang dipilih;
  8. Monitoring dan review hasil eksekusi.

Adanya ketidaksempurnaan dalam proses diatas mengasumsikan bahwa terdapat hasil yang ideal, informasi tersedia untuk mencapai hasil ideal tersebut, namun orang-orang yang mengambil bagian dalam proses bertindak rasional tidak biasa melakukannya. Kelemahan lain adalah emosi orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Fokus utama pengelolaan konflik adalah mengurangi efek emosi semua pihak dan membuat mereka berpikir rasional. Pilihan solusi yang khas adalah:

  1. Memaksa/ Mengarahkan – Metode dimana atasan dengan kekuatan otonom memiliki hak untuk memaksakan keputusan
  2. Melembutkan/ Mengakomodasi – Menegosiasikan masalah dan mencoba menyelesaikan perselisihan
  3. Kompromi/ Rekonsiliasi – Memberi dan mengambil pendekatan di mana masing-masing pihak menyerahkan sesuatu untuk mendapatkan solusi. Tingkat perselisihan membatasi jumlah pilihan yang muncul
  4. Pemecahan Masalah/ Berkolaborasi – Mengacu pada pengambilan keputusan kolektif untuk menghasilkan solusi yang konvensional
  5. Menghindari/ Menarik/ Menerima – Metode yang mungkin tidak menyelesaikan perselisihan namun memungkinkan waktu untuk menenangkan emosi

Salah satu pendekatan ini dapat digunakan untuk pengelolaan konflik tergantung pada sifat konflik, walaupun ada fokus utama untuk mengendalikan tingkat perselisihan. Tapi, pada waktunya, masalah mendasar dari konflik harus dipecahkan secara keseluruhan. Untuk membuat keputusan yang tepat, tersedianya data yang cukup dan tepat jelas diperlukan. Banyak keputusan yang sifatnya tidak sesederhana tetapi data yang tersedia tidak cukup memadai atau sulit didapatkan.

Masalah yang bisa kita hadapi pun bisa merupakan masalah sederhana hingga yang sangat masalah yang mengerikan.

  • Masalah yang mengerikan adalah jenis masalah yang terus berubah dan menuntut kompleksitas dan emosi. Pendekatan iteratif adalah paling baik untuk masalah seperti ini, karena setiap langkah keputusan bisa menyederhanakan masalahnya.
  • Dalam dilema, kita harus memilih solusi yang paling buruk karena tidak ada jawaban yang tepat untuk masalah ini, namun memilih solusi selalu lebih baik daripada tidak membuat keputusan.
  • Teka-teki adalah pertanyaan rumit yang memiliki jawaban spekulatif atau hipotetis.
  • Teka-teki dan misteri membutuhkan penilaian superlatif dalam keadaan tertentu. Kurangnya waktu untuk mengambil keputusan merupakan kendala yang sering muncul
  • Masalah yang membutuhkan kerja keras untuk dipecahkan. Implementasi proses pemecahan masalah haruslah secara hati-hati dan benar dapat menunjukkan hasil terbaik.

DILEMA

Menurut kamus Cambridge:

Dilema adalah sebuah situasi dimana pilihan yang sulit harus dilakukan diantara dua pilihan.

Brooke Johnson membedakan istilah konflik dan dilema sebagai berikut:

Konflik adalah perjuangan biasanya antara dua atau lebih orang dan cara menyelesaikannya adalah dengan membuat sebuah resolusi

Dilema adalah perjuangan sebagian besar dengan diri kita dimana kita membuat keputusan antara dua hal yang sama baiknya atau buruk

TEORI DRAMA SEBAGAI ALAT PENGAMBILAN KEPUTUSAN RESOLUSI KONFLIK

Teori drama merupakan alat bantu pengambilan keputusan yang bermanfaat dan fleksibel yang memungkinkan kita membuat keputusan yang terstuktur berdasarkan pilihan, prioritas organisasi atau pilihan pertimbangan keputusan lainnya yang melibatkan dilema. Teori drama merupakan  turunan Teori Permainan (game theory) mulai diperkenalkan pada tahun 1993 dan dikembangkan oleh Peter Bennett dan Nigel Howard. Teori ini menyediakan alat untuk menganalisis masalah keputusan yang melibatkan lebih dari satu pengambil keputusan.

Berbeda dengan pendekatan teori permainan tradisional, teori drama mampu menunjukan bagaimana emosi berkontribusi dalam pengambilan keputusan dan penyelesaian konflik, dikembangkan untuk menghadapi “anomali” seperti perilaku irasional. Sebuah drama terjadi melalui episode dimana orang (karakter) berinteraksi. Episode ini merupakan tahap komunikasi preplay antara karakter yang setelah berkomunikasi kemudian berperan sebagai pemain dalam game yang dibangun melalui dialog di antara keduanya. Sebagian besar konsep Teori Drama berasal dari model teatrikal yang diterapkan pada interaksi kehidupan nyata. Dengan demikian, sebuah episode melewati fase pengaturan adegan (scene setting), pembentukan (build up), klimaks dan keputusan. Hal ini diikuti dengan aksi setelahnya, yaitu aksi yang membentuk episode berikutnya. Istilah ‘Teori Drama’ dan penggunaan konsep teater mencerminkan kenyataan dan berlaku untuk plot interaksi fiksi serta hubungan politik, perang, bisnis, pribadi dan masyarakat, psikologi, sejarah dan lainnya.

Secara formal, teori drama menggambarkan model lima fase resolusi dramatis. Yaitu scene setting, build up, climax, resolution dan denouement.

Scene Setting

Tahapan adalah tahap penentuan pemain, isu yang terlibat dan lingkungan di mana resolusi apapun akan bisa terjadi.

Build Up

Pada fase ini, pemain melihat sebuah “frame”  preferensi dan peluang. Apa itu preferensi pemain, pilihan tindakan apa yang terbuka untuk mereka dan apa yang bisa mereka lakukan. Disini juga, pemain memperhatikan preferensi pemain lain yang berujung pada pengambilan “posisi” dan “fallback”. Sebuah posisi adalah sebuah saran yang harus ditempuh masa depan. Sedangkan fallback adalah langkah yang dinyatakan pemain tentang apa yang akan mereka lakukan jika mereka tidak dapat memperoleh posisi mereka. Jika semua pemain mengambil posisi yang sama dan tidak ada yang meragukan pemain lain, maka mereka bisa melanjutkan ke fase resolusi, tetapi jika tidak  mereka akan melewati fase klimaks.

Climax

Para pemain tampil saling melawan satu sama lain.  Inilah dilema yang harus dihadapi pengambil keputusan yang ada saling tergantung. Dilema ini menyebabkan pemain merasakan berbagai emosi. Emosi menyebabkan pemain berperilaku irasional: mereka mengubah preferensi dan sistem nilai yang mendasarinya dan mencari opsi baru. Perubahan akibat emosi memaksa para pemain untuk kembali ke langkah sebelumnya (build up) dan mengatur frame baru. Tahap ini terus berlanjut sampai semua pemain mengambil posisi yang sama dan mereka sepakat untuk bergerak ke fase resolusi

Resolution

Para pemain sepakat pada satu posisi yang kuat dan stabil.

Denouement

Tahap ini merupakan fase implementasi.

ENAM JENIS DILEMA DALAM TEORI DRAMA

Pada fase build-up, dimana karakter telah saling mengetahui posisi dan fallback masing-masing dalam konfrontasi dan tidak ada kesepakatan bersama, maka inilah enam dilema yang bisa terjadi berdasarkan teori Howard dkk. Enam dilema ini antara lain:

  • Dilema kolaborasi (collaboration dilemma)
  • Dilema kepercayaan (trust dilemma)
  • Dilema persuasi (persuasion dilemma)
  • Dilema penolakan (rejection dilemma)
  • Dilema ancaman (threat dilemma)
  • Dilema posisi (positioning dilemma)

Untuk memudahkan para pembelajar, biasanya pengertian dan penjelasan mengenai dilema ini disajikan dengan menampilkan karakter, contoh yang akan digunakan dalam penjelasan disini adalah penggunaan karakter A dan B.

Dilema kolaborasi (collaboration dilemma)

A mempunyai dilema kerjasama terhadap B. Jika A bermaksud untuk melanggar komitmennya terhadap kesepakatan yang dibuat bersama B karena A merasa ragu juga terhadap komitmennya. Dalam dilema ini, jika ternyata memilih berkomitmen sedangkan B ternyata yang berkhianat, maka kerugian akan didapatkan oleh A, disisi lain, A sebenarnya ingin komitmen pada kesepakatan dan masih mencari alasan untuk melanggar janjinya.  A mendapat perbaikan posisi dibanding posisi sebelumnya.

Dilema kepercayaan (trust dilemma)

A mempunyai dilema kepercayaan terhadap B. Jika A tidak percaya bahwa B akan komitmen terhadap kesepakatan yang telah dibuat bersama. Posisi A bisa jadi diremehkan dan terancam B, karena B akan melanggar kesepakatan. Jika A ingin tetap berkomitmen,  A menghadapi masalah komitmen saat dia tahu bahwa posisinya membuat B tergoda untuk mendapatkan posisi yang lebih baik. Dilema ini bisa terjadi pada kedua belah pihak jika posisinya seimbang.

Dilema kepercayaan dan kerja sama dilema diibaratkan seperti dua sisi mata uang. Jika satu sisi menghadapi dilema kerjasama, sisi lain menghadapi dilema kepercayaan.

Dilema Ancaman (Threat dilemma)

A mempunyai dilema ancaman terhadap B. Jika ancaman A terhadap B tidak ditanggapi B sebagai ancaman karena B tahu bahwa posisinya bisa lebih baik untuk A.  A menghadapi ancaman masa depan. Jika B menyerah, A bisa mendapatkan potensi perbaikan dari masa depan yang mengancam. Untuk mengatasi dilema ini, A tidak boleh mengambil posisi B dengan cara menguatkan preferensi dan fallback serta melakukan sesuatu untuk memperkuat ancaman besar di masa depan. Hal tersebut bisa membuat B menyerah. Jika B tidak menyerah, maka bencana masa depanlah yang akan dihadapi A.

Dilema Posisi (Positioning dilemma)

A mempunyai dilema posisi terhadap B. Jika A lebih menyukai posisi B dibandingkan dengan posisinya sendiri. A bisa memilih aksi untuk bernegosiasi lalu A bisa semakin yakin bahwa posisi B lebih menguntungkan bagi A, lalu bisa berpindah ke posisi B. Atau A mungkin akan menyesali hasil negosiasi yang membuat dia menjadi pindah posisi, karena bisa membuat buruk reputasinya dimasa depan.

Dilema Penolakan (Rejection dilemma)

A mempunyai dilema penolakan terhadap B. Jika posisi B di masa depan mungkin sama baik atau lebih baik dariposisi A saat ini. Sebaiknya A memilih B daripada akan menjadi ancaman di masa depan.

Dilema Persuasi (Persuasion dilemma)

A mengalami dilema persuasi terhadap B. Jika B lebih menyukai ancaman dengan segala konsekuensinya yang dimunculkan A di masa depan daripada posisi A. A bisa lakukan cara memperkuat ancaman dan membuat situasi lebih buruk untuk B yang membuat B tidak bisa menghindar. Tetapi jika B tetap pada posisinya, maka kondisi bermusuhan akan terus terjadi di masa depan.

Nah untuk lebih memahami bagaimana drama theory dan resolusi konflik digunakan dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, silahkan untuk intips kumpulan penelitian berikut ini:

Kumpulan Penelitian Mengenai Drama Theory dan Resolusi Konflik di Indonesia