Abstraksi

Antara India dan Bangladesh dilalui sebuah sungai yang amat panjang, namanya adalah Sungai Gangga. Keadaan geografis ini menjadi menyulitkan karena mau tidak mau kedua negara harus saling berbagi sumber daya alam tersebut. Tentu saja, tidak ada negara yang mau berbagi, itu jelas tidak mungkin, maka dibuatlah sebuah perjanjian di antara India dan Bangladesh. Perjanjian tersebut mencakup soal buka-tutup kanal Sungai Gangga. Namun tentu saja, tidak ada negara dominan yang cukup bodoh untuk mengikuti syarat negara yang lebih lemah darinya, India pun melanggar perjanjian tersebut secara sepihak. Ketika sungai Gangga sedang banjir, kanal dibuka, mengakibatkan Bangladesh terkena banjir. Ketika sungai Gangga sedang kering, kanal ditutup, mengakibatkan Bangladesh tidak mendapat air. Situasi ini menyebabkan konflik di antara kedua negara.

Latar Belakang

Sungai Gangga adalah sumber air yang penting untuk negara India dan Bangladesh sejak dahulu kala, dan selama itulah kedua negara itu berkonflik untuk memiliki sumber air Sungai Gangga. Konflik ini  berubah drastis pada tahun 1975 dimana India saat itu membangun Farakka Barrage di atas Sungai Gangga di daerah India. India dan Bangladesh tidak mempunyai konsensus sama sekali tentang pembangunan ini, India melakukannya secara sepihak.

India dan Bangladesh kemudia membuat perjanjian tentang penggunaan sumber air Sungai Gangga setelah pembangunan Farakka Barrage yaitu pada tahun 1975, 1977, dan 1996. Terkadang beroperasi kadang tidak bergantung pada kondisi politik kedua negara. Tiga perjanjian yang dibuat berbeda di beberapa titik. Namun,  umumnya perjanjian tersebut menguntungkan pihak India yang berlokasi di hulu sungai. Bangladesh lebih rentan banjir dan kekeringan, bisa dikatakan sering kena bencana. Bangladesh sendiri sulit untuk menawarkan skenario baru yang bisa menghilangkan konflik dimana Bangladesh tidak diuntungkan secara ekonomi dan topografi dibandingkan India. Sedangkan dari pihak India, sulit untuk mengubah sikapnya.  Konflik antara India dan Bangladesh akan bisa selesai jika mereka bernegosiasi dan oleh karena itu keterlibatan pihak ketiga menjadi dibutuhkan. Pihak ketiga ini selanjutnya disebut sebagai Donor atau Koordinator.

Kondisi Sungai Gangga

Seperti halnya kota-kota lain, berbagai kota di India juga memiliki sistem pembuangan agar kota tetap bersih. Sayangnya banyak kota dan pabrik mengarahkan saluran pembuangan ini ke Sungai Gangga. Belum lagi sisa-sisa persembahan dengan bungkus plastik yang tidak bisa diuraikan sehingga membuat sungai ini menjadi kotor dan mengandung banyak limbah. Varanasi, salah satu kota suci di dekat sungai Gangga mengalirkan sekitar 200 juta liter limbah kotoran manusia yang belum diolah langsung ke sungai ini. Padahal, masih di kota yang sama jutaan manusia berkunjung untuk melakukan kegiatan suci berendam di sungai Gangga. Tentu saja masalah polusi ini menjadi perhatian penting bagi pemerintah mengingat sungai ini adalah bagian dari kegiatan keagamaan umat Hindu India.

Permasalahan berikutnya adalah mayat. Umat Hindu India memiliki ritual pembakaran mayat jika ada seseorang yang meninggal. Pembakaran mayat ini dilakukan di tepi sungai Gangga. Setelah upacara kremasi ini selesai, maka sisa-sisa abu dan tulang si mayat akan dibuang ke sungai ini. Tapi tidak hanya abu sisa kremasi saja, keluarga yang tidak mampu mengkremasi seseorang yang meninggal akhirnya hanya menghanyutkan mayat mereka begitu saja di sungai ini. Sebagian umat Hindu India memang yakin bahwa jika jasad seseorang yang meninggal dihanyutkan di sungai ini, maka mereka akan terlahir kembali di tengah-tengah keluarga. Tidak hanya itu saja, karena sungai Gangga dianggap suci, maka menghanyutkan mayat juga dipercaya akan mensucikan jasa orang yang sudah meninggal tersebut. Akibatnya, pemandangan mayat-mayat di sekitar sungai adalah hal yang biasa di sini. Pada Januari 2015, lebih dari 100 mayat ditemukan tersangkut saat sungai surut sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. Tidak jarang juga binatang liar seperti burung gagak dan anjing ikut memakan jasad yang dibiarkan di ruang terbuka ini.

Permasalahan ketiga adalah pola hidup. Meski bisa dipastikan memiliki tingkat polusi yang tinggi, masyarakat sekitar sungai Gangga masih bergantung pada sungai ini untuk kepentingan minum, mandi, dan mencuci. Mereka bahkan juga tidak heran ataupun terkejut ketika melihat mayat yang mengapung di dekat mereka saat sedang mengambil air. Mencuci atau mandi dengan mayat berada di dekatnya adalah hal yang biasa. Kondisi sungai yang kotor dan banyak mayat tidak membuat warga merasa jijik atau ngeri. Mereka juga tidak takut terjangkit penyakit karena percaya bahwa segala macam jenis kuman dan bakteri akan mati di dalam sungai Gangga.

Pada tahun 2007, Sungai ini pernah menjadi sungai dengan tingkat polusi ke-5 di Dunia. Limbah kotoran manusia membuat sungai ini mengandung bakteri faecal coliform yang sangat tinggi. Bakteri inilah yang menjadi indikasi banyaknya penyakit disana. Untuk mandi saja sudah tidak layak apalagi untuk air minum. Polusi ini tidak hanya mengancam manusia yang tinggal di sekitar sungai Gangga, tapi juga semua makhluk hidup yang tinggal di sana. Bahkan 80 persen penyakit dan sepertiga kasus kematian yang ada di India dihubungkan dengan penyakit akibat air yang tercemar polusi.

Karena sejumlah permasalahan di atas, Pemerintah setempat sebenarnya tidak tinggal diam melihat kondisi sungai Gangga yang menjadi pusat kehidupan banyak orang ini tercemar. Usaha membersihkan sungai Gangga pertama kali dilakukan pada tahun 1986 oleh Perdana Menteri Rajeev Gandhi. Program ini dinamakan Gangga Action Plan. Namun usaha ini gagal meski telah mengeluarkan uang hingga 9.017 juta Rupee sehingga pada tahun 2000, rencana ini ditarik kembali. Kegagalan ini terjadi karena usaha ini banyak digunakan untuk agenda politis, bukan benar-benar untuk membersihkan sungai. Masyarakat yang tidak dilibatkan, kurangnya kontrol limbah manusia dan limbah industri juga disinyalir menjadi penyebab gagalnya Gangga Action Plan.

Meski begitu, pemerintah dan beberapa aktivis India tidak menyerah, mereka terus berusaha untuk membuat sungai ini menjadi lebih bersih. Bahkan ada yang sampai melakukan protes mogok makan agar penambangan liar yang berkontribusi terhadap tercemarnya sungai Gangga ditutup

Baca juga konflik lainnya di tautan berikut:

Kumpulan Penelitian Game Theory di Indonesia