Hallo shareaddicts, yuk belajar pendekatan Teori Permainan lainnya, kali ini saya akan bahas tentang apa itu Koopetisi (Co-opetition). Yuk Simaks.

Secara terminologi, istilah co-opetition pertama kali dicetuskan oleh Noorda (1993) pendiri perusahaan perangkat lunak jaringan (networking software). Noorda memberikan pandangan bahwa co-opetition yang merupakan perpaduan bekerjasama (cooperation) dan bersaing (competition) dapat menciptakan hubungan yang lebih dinamis ketimbang yang diisyaratkan oleh kata “persaingan” dan “bekerjasama” secara terpisah. Selanjutnya, Bradenburger dan Barry (1996) menggunakan istilah co-opetition dan menjadikannya sebuah judul buku “Co-opetition”.

Mewujudkan co-opetition ke dalam praktik bukanlah hal mudah, bukan hanya menyadarkan diri sendiri untuk berpikir kerjasama dan menang – menang tetapi juga butuh kerangka untuk memikirkan konsekuensi yang akan didapat dari kerjasama dan persaingan tersebut (Bradenburger dan Barry, 1996). Begitu pula dengan Dagnino dan Padula (2002) yang menjelaskan situasi aktivitas kerjasama dan persaingan secara simultan. Co-opetition juga merupakan dampak dari berbagi pengetahuan yang bisa menjadi keunggulan kompetitif. Pengetahuan di dapat atau terjadi dalam kerjasama yang dapat juga digunakan untuk bersaing (Osorio dkk. 2002; Levy dkk. 2003).

Perkembangan konsep co-opetition berkembang sangat cepat, Ngo dan Okura (2008) misalnya, mengaplikasikan prinsip co-opetition ini pada sebuah pasar mixed duopoly untuk melihat dampak privatisasi pada tingkat kerjasama dan persaingan diantara perusahaan yang berada pada pasar tersebut. Ngo (2006) juga pernah mempresentasikan co-opetition contest model yang menjadi bahasan populer di European Institute for Advanced Studies in Management (EIASM). Kemudian, aplikasi bisnis untuk co-opetition diantaranya Rodrigues dkk. (2009) yaitu pada studi kasus merek global Nike dan Ipod co-branding, Bradenburger dan Barry (1996) pada studi kasus aspartam untuk pepsi dan coca cola. Tsai (2002) pun mencoba mengaplikasikan konsep co-opetition ini pada organisasi multi unit dengan tiga variabel: koordinasi, persaingan dan berbagi pengetahuan intraorganisasi. Untuk studi kasus di Indonesia, Siregar dkk. (2006) mengaplikasikan co-opetition pada studi kasus perbankan di Indonesia.

Co-opetition dapat menjadi subjek alternatif diantara dua strategi yang berlawanan, dimana yang satu ingin bekerjasama (dijelaskan dengan model relasi) dan yang lain ingin bersaing (dikarakterkan dengan model sebaran). Model tersebut sangat mirip dengan apa yang diutarakan Bengtsson dkk. (2000), dimana terdapat tiga tipe hubungan bersifat co-opetition: competition-dominated, cooperation-dominated, and equal relationships. Co-opetition yang dibuat oleh Bradenburger dan Barry (1996) merupakan rangkuman dari lima hal:

Berpikir tentang komplemen

Dengan contoh klasik mengenai komplemen adalah perangkat keras komputer dan perangkat lunaknya. Hal pertama ini menjelaskan bahwa komplemen selalu bersifat timbal balik. Perangkat keras komputer tidak bisa melupakan perangkat lunak dan begitu pula sebaliknya.

Jaring nilai (value net)

Karena pengenalan co-opetition bermula untuk bisnis. Jaring nilai mengungkap dua simetri fundamental dalam permainan bisnis. Pada dimensi vertikal, pelanggan dan pemasok memainkan peran simetrik. Mereka merupakan mitra sejajar dalam menciptakan nilai. Tetapi orang tidak selalu menyadari simetri ini. Pada dimensi horizontal, terdapat komplementor dan kompetitor. Yang akan dilihat perbedaan dua hal tersebut adalah kata ‘lebih” dalam definisi komplementor menjadi definisi “kurang” dalam definisi kompetitor.

Sering sekali dalam bisnis semua orang terfokus pada salah satu sisi bisnis, dan melupakan yang lain. Jaring nilai dirancang untuk mengatasi kecenderungan ini. Jaring nilai digambarkan dalam Gambar berikut:

Menebarkan jaring

Sejauh ini, menebarkan jaring nilai hanya dari satu sudut pandang yaitu menempatkan diri di tengah dan kemudian melihat ke sekeliling pelanggan, pemasok, pesaing dan komplementor. Ini belum lengkap, masih ada pelanggan dari pelanggan, pemasok dari pemasok, pesaing dari pesaing, komplementor dari komplementor dan seterusnya. Menggambar jaring dapat membantu dan menemukan cara untuk meningkatkan permintaan akan apapun yang dijual pada pelanggan. Membantu pelanggan sama saja dengan membantu perusahaan juga.

Memainkan banyak peran

Orang memainkan banyak peran dalam kehidupan. Hal tersebut membuat permainan jauh lebih rumit. Adakalanya seseorang sedang memainkan satu orang dan lupa pada perannya yang lain. Jaring nilai akan membantu untuk menghilangkan kemelut tersebut. Dalam jaring nilai, percuma menempatkan seseorang hanya sebagai pelanggan atau hanya sebagai pemasok saja atau hanya sebagai pesaing saja atau hanya sebagai komplementor.

Menentukan siapa kawan dan siapa lawan

Sepanjang dimensi vertikal dari jaring nilai, ada paduan kerja sama dan persaingan. Ada kerja sama bilamana pemasok, perusahaan, dan pelanggan berpadu bersama untuk menciptakan nilai. Tetapi jika nilai itu harus dibagi, pelanggan mendesak untuk mendapatkan harga yang lebih rendah, dan pemasok  juga menghendaki bagian. Jadi persaingan ada ketika harus berbagi nilai. Istilah co-opetition adalah yang terbaik untuk memeriksa hubungan perusahaan dengan pelanggan dan pemasok. Penjelasan ini juga berlaku sama untuk dimensi horizontal.

Sampai disini belajar konsep Koopetisinya. Biar teman-teman lebih paham cara aplikasi konsep ini ke dalam studi kasus, silahkan download paper Koopetisi ICB. dan slidenya  Koopetisi ICB. Dan jangan lupa untuk disitasi  (referensi) dengan menggunakan format:

APA Style:

Alamanda, D. T. (2012). Co-opetition Usaha Keluarga Kursus Bahasa Inggris ICB Garut. Forum Manajemen Indonesia 4. Yogjakarta: FMI .

IEEE Style:

D. T. Alamanda, “Co-opetition Usaha Keluarga Kursus Bahasa Inggris ICB Garut,” in Forum Manajemen Indonesia 4, Yogjakarta, 2012.

Oia jangan lupa buat baca tulisan lain mengenai Coopetition berikut:

Trans Metro Bandung Conflict Resolution