Hallo para akademia Indonesia. Wah senang sekali kali ini saya bisa berbagi mengenai service science,  Konsep “service science” merupakan gagasan Profesor UC Berkeley Profesor Henry Chesbrough dan Pusat Riset IBM Almaden pada tahun 2002, lahir dari upaya oleh tim peneliti pusat untuk mempelajari layanan dari sudut pandang sistem rekayasa sosial. Mulai populer pada Desember 2004,  ketika CEO IBM dan ketua The Council on Competitiveness, Samuel Palmisano, menerbitkan sebuah laporan di Innovate America yang menjadi landasan bagi seluruh peneliti service science selanjutnya.

Apa itu Service Science?

Service Science, seperti yang didefinisikan oleh laporan Innovate America, adalah sebuah disiplin baru yang muncul dari pesatnya perkembangan layanan di seluruh dunia industri,  berakar dari studi interdisipliner mengenai ilmu komputer, riset operasi, teknik industri, matematika, strategi bisnis, ilmu manajemen, teori keputusan, ilmu sosial dan kognitif dan ilmu hukum. Cakupan tujuan service science, mengatasi masalah seperti sampai sejauh mana organisasi dapat direstrukturisasi, bagaimana mengelola inovasi layanan, dan lain-lain. Komponen aktual ilmu ini meliputi strategi bisnis, proses bisnis, optimasi SDM dan teknologi fundamental di bidang TI. Konsep service science populer dengan sebutan SSME (Services Science, Management and Engineering).

Nah bahasan lengkap mengenai  konsep service science akan tersendiri yah, kali ini kita bahas juga publikasi ilmiah yang membahas mengenai service science di Indonesia. Ini dia daftarnya.

Valuable Craft: A Co-Creation as a Factor of Success in Zocha Vetiver Root Industry

Penulis: Dini Turipanam Alamanda, Abdullah Ramdani

Format Sitasi [APA Style]: Alamanda, D. T., & Ramdani, A. (2011). Valuable Craft: A Co-Creation as a Factor of Success in Zocha Vetiver Root Industry. THE 3rd Indonesia International Conference on Innovation, Entrepreneurship, and Small Business (pp. 87-90). Bandung: CIEL SBM ITB.

Akar wangi (Vetivera ziazinodes) merupakan bahan baku pembuatan parfum dengan cara mengambil minyaknya, sedangkan akarnya biasanya dibuang sebagai limbah. Akar yang wangi hanya ada di tiga tempat di dunia, yaitu di Haiti (Amerika Tengah), Bourbond (koloni Prancis), dan Garut (Indonesia). Mengekplorasi limbah akar wangi, kini, industri kreatif  Garut bernama Zocha yang menghasilkan  kerajinan apik dan bernilai jual tinggi. Dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin,  akar wangi menjadi benang dan kemudian menjadi seni yang berharga dan kerajinan beraroma. Saat ini, Zocha sudah kerjasama dengan industri pariwisata baik lokal maupun nasional. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, makalah ini mencoba memetakan lima kegiatan co-creation (keterlibatan pelanggan, swalayan, keterlibatan pelanggan, pemecahan masalah dan co-design) untuk mengeksplorasi bagaimana penciptaan nilai bersama terjadi dalam konteks industri kreatif. Temuan ini menunjukkan kerangka kerja komprehensif untuk membantu industri kreatif kecil menjalankan proses co-creation nilai dengan menunjukkan bahwa Zocha bukan hanya fasilitator nilai tetapi juga sebagai value co-creator.

Silahkan untuk download paper lengkapnya Full Paper – Zocha Vetiver Root Shop, dan jangan lupa untuk disitasi yah sesuai format di atas.

New Value Co-Creation of Zocha SME Using The DART Model

Penulis: Dini Turipanam Alamanda, Husni Amani, Grisna Anggadwita, Arif Partono Prasetio, Ahmad Khoirudin Anwar

Referensi: (APA Style):  Alamanda, D. T., Amani, H., Anggadwita, G., Prasetio, A. P., & Anwar, A. K. (2015). New Value Co-Creation of Zocha SME Using The DART Model. The 7th Indonesia International Conference on Innovation, Entrepreneurship, and Small Business (IICIES 2015).Bandung: IICIES.

Paper ini membahas mengenai bagaimana nilai sebuah UKM bisa ditingkatkan dengan melakukan kreativitas kolaboratif antara UKM dan pelanggannya sehingga memungkinkan terjadinya inovasi yang memuaskan pelanggannya. Zocha Graha Kriya adalah salah satu UKM yang bergerak di bidang kerajinan, seni, dan pariwisata yang terbentuk dari beberapa pengrajin, seniman, petani, dan penggiat pariwisata di Kabupaten Garut. Saat ini, Zocha ingin mengembangkan produk kerajinan yang tidak hanya mampu memberi suatu nilai yang dapat dinikmati indera, tetapi juga mampu memberikan prestise tersendiri bagi para konsumen yang memilikinya. Untuk mencapai tujuannya itu, Zocha membutuhkan kajian value co-creation mengenai usahanya saat ini sehingga bisa melakukan perencanaan bisnis yang lebih baik ke depannya. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji value co-creation Zocha dengan menggunakan model DART (Diallogue, Access, Risk Assessment dan Transparancy). Metode Kualitatif dengan hasil deskriptif dipilih dalam penelitian ini. Penelitian ini juga bersifat longitudinal dilihat dari waktu pelaksanaannya. Wawancara mendalam dengan metode snowball sampling dilakukan terhadap 12 nara sumber yang berasal dari internal perusahaan (owner dan kepala-kepala divisi) maupun eksternal perusahaan (UKM potensial lain di Kabupaten Garut, Plasma Zocha, Pelanggan Individu, Pemerintah dan Pelanggan Perusahaan). Hasil kajian menunjukkan bahwa dari segi Diallogue, Risk Assessment dan Transparancy, Zocha sudah melakukan dengan baik. Namun Zocha masih memiliki kekurangan yaitu pasifnya akses yang menghubungkan Zocha dengan pelanggan, pemasok maupun dengan mitra UKM potensial di Kabupaten Garut.

Lengkapnya bisa didownload di sini (here)