Sitasi:  Alamada, DT.,  Amani, H., Setiawati, C.I., Miftahul, L. (2015). Wrong Way, Wrong Decision Making, How Come?. The 3rd International Seminar and Conference on Learning Organization. Yogyakarta, Indonesia. https://www.atlantis-press.com/proceedings/isclo-15/25852579

Abstrak

Indonesian-Deutschland Car Community (IDCC) adalah sebuah komunitas yang dibentuk dengan anggota para pemilik dan penggemar mobil pabrikan Jerman khususnya merek BMW yang berpusat di Kota Bandung. Kegiatan Musyawarah Nasional IDCC tahun 2015 merupakan kegiatan yang sangat penting dan menjadi prioritas utama karena hasil pengambilan keputusan didalamnya akan mempengaruhi komunitas secara menyeluruh selama satu tahun.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil pengambilan keputusan IDCC terkait pemilihan kepala Distrik BSD dengan menggunakan Simple Multi Attribute Rating Technique (SMART) method. Pengumpulan data dilakukan melalui dua cara, pertama melalui wawancara dengan dua narasumber utama yang ditentukan menggunakan teknik purposive sebagai preliminary research. Cara kedua adalah penyebaran  kuisioner kepada seluruh anggota IDCC (sampel jenuh) untuk melihat respon dari anggota IDCC terhadap hasil keputusan musyawarah yang selanjutnya dianalisis dengan SMART Method. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidakcocokkan hasil antara keputusan musyawarah 2015 dengan hasil rata-rata pendapat anggota IDCC terkait pemilihan kepala Distrik BSD. Pro-kontra hasil keputusan dan kriteria apa saja yang digunakan IDCC dalam pengambilan keputusan didiskusikan dalam paper ini.

Keywords: Decision Making, Brand Community, SMART, IDCC

Introduction

Saat ini, kota Bandung merupakan kota dengan komunitas terbanyak di Indonesia. Pada tahun 2014 terdapat 4.000 komunitas di kota Bandung, dan 180 diantaranya sudah berstatus legal. Komunitas otomotif adalah yang terbanyak dengan jumlah 67 komunitas atau 37,2 % dari total komunitas legal.  Selanjutnya menurut informasi dari panitia pembentukan Forum Komunikasi Bimmer Indonesia terdapat tiga komunitas mobil BMW di Kota Bandung dari total 31 komunitas BMW di Indonesia.

Banyaknya jumlah komunitas mobil BMW ini tidak terlepas dari meningkatnya jumlah pembelian mobil di Indonesia. Setidaknya Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia GAKINDO (2014) mencatat penjualan BMW mengalami peningkatan pada tahun 2013 yaitu sebesar 12% dibandingkan tahun sebelumnya dan pada tiga kuartal awal ditahun 2014 sudah mengalami peningkatan sebesar 10% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2013. Kenaikan penjualan tersebut diklaim BMW sebagai satu-satunya merek kendaraan kelas premium di Indonesia yang mengalami pertumbuhan signifikan selama lima tahun berturut-turut (Suryadi, 2014).

IDCC adalah sebuah komunitas yang dibentuk dengan anggota para pemilik dan penggemar mobil pabrikan Jerman khususnya merek BMW. Seperti yang tertera dalam AD ART IDCC, sejak awal pembentukannya IDCC memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai yaitu tiap anggota dapat saling mengembangkan dan meningkatkan dalam berbagai hal, berbagi pengetahuan otomotif, membantu menyatukan dan mengarahkan hasrat dan keinginan para anggota serta mendukung segala bentuk kegiatan sosial positif dari pihak manapun untuk memperluas jalinan persaudaraan.

IDCC dalam mencapai tujuannya tersebut memiliki beberapa kegiatan yang rutin dilakukan baik kegiatan internal dengan anggotanya maupun kegiatan eksternal yang diselenggarakan oleh pihak lain. Diantara kegiatan-kegiatan yang dilakukan tersebut, terdapat kegiatan yang sangat penting dan dijadikan kegiatan prioritas utama bagi IDCC yaitu Musyawarah Nasional seperti yang dikatakan oleh sekretaris IDCC, Lian Soeprianto, dikarenakan hasil pengambilan keputusan dalam kegiatan tersebut akan mempengaruhi komunitas secara menyeluruh selama satu tahun. Sesuai dengan notulen hasil Musyawarah Nasional tahun 2015 terdapat dua faktor penting yang menjadi topik pembahasan dalam acara tersebut yaitu kepengurusan dan kegiatan komunitas.

Sejak IDCC mulai menerapkan sistem kepengurusan, pengambilan keputusan hanya dilakukan oleh pengurus dan kemudian dimusyawarahkan dengan para anggotanya untuk mendapat persetujuan. Fenomena yang terjadi adalah anggota IDCC diluar kepengurusan cenderung hanya menyetujui keputusan yang sudah dibuat oleh pengurus, tanpa mengetahui bagaimana proses pengambilan keputusan yang dilakukan dan indikator apa saja yang digunakan. Sehingga saat melakukan penerapan dari hasil keputusan seringkali tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan saat pengambilan keputusan dan menimbulkan keluhan dari para anggota.

Diantara banyak metode pengambilan keputusan, terdapat metode SMART yang dikembangkan oleh Edwards (1971) untuk menyelesaikan permasalahan pengambilan keputusan kompleks dengan banyak atribut atau kriteria dan pilihan alternatif dengan menggunakan metode pembobotan sederhana (Fast, 1988:7), sehingga dapat diterapkan bagi perorangan atau kelompok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengambilan keputusan khususnya dalam kegiatan Musyawarah Nasional IDCC tahun 2015 yang diselenggarakan pada tanggal 3 Januari 2015.

Research Methodology
Riset ini menggunakan pendekatan metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data didapatkan dari hasil in-depth interview terhadap founder dan co-founder komunitas IBCC. Tahap tersebut adalah untuk mendapatkan in-sight mengenai pengambilan keputusan yang diambil komunitas saat musyawarah nasional dan untuk mengkonfirmasi item pertanyaan yang disebarkan kepada seluruh anggota komunitas. Tahap kedua adalah penyebaran kuesioner terhadap seluruh anggota komunitas yang berjumlah 63 particpant (sampel jenuh). Baik pemillihan nara sumber maupun responden menggunakan purposive sampling method. Untuk mengolah data hasil wawancara, mengacu pada Miles dan Huberman (1994) yang mengatakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara terus menerus, hingga datanya jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display dan conclusion drawing. Sedangkan hasil kuesioner dioleh dengan metode SMART.

Simple Multi-Attribute Rating Technique (SMART)
Menurut von Winterfeldt dan Edwards (Barfod, 2012:47) SMART merupakan metode untuk pengambilan keputusan dengan kriteria majemuk dimana jumlah alternatif keputusan sudah dievaluasi terlebih dahulu berdasarkan kriteria tertentu atau bisa juga dikatakan setiap alternatif terdiri dari sejumlah kriteria yang memiliki nilai – nilai dan bobot yang menunjukkan tingkat kepentingannya dibandingkan dengan kriteria lain. Model yang digunakan dalam metode SMART adalah :

Maximize∑_(j=1)^k▒〖ωj.μij〗 ,∀i=1,…,n

Keterangan :
ωj adalah nilai normalisasi pembobotan kriteria ke j dari k kriteria.
μij adalah nilai kriteria alternatif i pada kriteria j.
Pemilihan keputusan adalah dengan memilih n alternatif yang mempunyai nilai agregat terbesar.

Paper lengkapnya bisa didapatkan di: https://www.researchgate.net/publication/299989972_Wrong_Way_Wrong_Decision_Making_How_Come

Baca juga contoh penelitian SMART CITY lainnya seperti:

Adoption Of Technology On The Assessment Information System Application Of Bandung Juara (Sip Bdg Juara) Using Modified UTAUT 2 Model