Halo shareaddict, masih menggali Teori Pengambilan Keputusan, kali ini yuk pelajari Pengambilan Keputusan dalam Berbagai Kondisi berikut ini.

Pengambilan Keputusan pada Kondisi Pasti:

Kondisi pasti muncul pada saat pengambil keputusan mengetahui dengan pasti apa saja alternatif permasalahannya, kondisi apa saja yang terkait dengan setiap alternatif, dan hasil dari alternatif. Dalam kondisi pasti, informasi bersifat akurat, terukur dan dapat dipercaya. Kita mengetahui hubungan sebab-akibat dan bisa menebak apa yang bisa terjadi di masa depan. Kondisi seperti ini biasanya ada pada kasus keputusan yang sifatnya rutin dan berulang.

Alat bantu Linear Programming adalah alat yang baik digunakan untuk menghasilkan solusi optimal dalam permasalahan dalam kondisi pasti.

Pengambilan keputusan berdasarkan Resiko:

Bila seorang manajer tidak mempunyai informasi sempurna atau mempunyai informasi yang masih simpang siur, berarti berpotensi munculnya resiko. Dalam keadaan berisiko, pengambil keputusan memiliki informasi yang tidak lengkap tentang alternatif yang tersedia namun memiliki gagasan bagus tentang probabilitas  (peluang) hasil untuk setiap alternatif. Dalam membuat keputusan berdasarkan resiko, manajer harus menentukan probabilitas pada setiap alternatif berdasarkan informasi yang ada atau berdasarkan pengalamannya.

Pendekatan populer yang digunakan pada kondisi ini antara lain: Expected Monetary Value (EMV) dan Expected Opportunity Loss (EOL).

Pengambilan Keputusan pada Kondisi Tidak Pasti:

Keputusan paling penting yang dibuat di lingkungan yang kompleks saat ini dirumuskan dalam keadaan tidak pasti. Kondisi ketidakpastian muncul pada saat kita tidak bisa memprediksi masa dan kondisi dimana serba fluktuatif. Pembuat keputusan tidak mengetahui semua alternatif yang ada, risiko yang terkait dengan masing-masing, dan konsekuensi dari setiap alternatif atau probabilitasnya.

Manajer tidak memiliki informasi lengkap tentang alternatif dan informasi apa pun yang tersedia, sekalipun dia mempunyai informasi, informasinya tidak berguna Dalam menghadapi ketidakpastian tersebut, para manajer perlu membuat asumsi tertentu mengenai situasi tersebut untuk memberikan kerangka kerja yang masuk akal. Mereka harus bergantung pada penilaian dan pengalaman mereka untuk mengambil keputusan.

Dalam situasi ketidakpastian, orang hanya memiliki data yang sedikit, mereka tidak tahu apakah data tersebut dapat diandalkan atau tidak, dan mereka sangat tidak yakin mengenai apakah keadaan dapat berubah atau tidak. Selain itu, mereka tidak dapat mengevaluasi interaksi dari variabel yang berbeda. Sebagai contoh, sebuah perusahaan yang memutuskan untuk memperluas operasinya di negara asing mungkin tidak tahu banyak tentang budaya, undang-undang, lingkungan ekonomi, dan politik negara tersebut. Situasi politik bisa jadi sangat bergejolak sehingga bahkan para ahli pun tidak bisa memprediksi kemungkinan perubahan pemerintahan.

Pendekatan populer yang digunakan pada kondisi ini antara lain: Maximax, Maximin, Minimax, Minimax Regret, Laplace dan Hurwick.

Pendekatan moderen Pengambilan Keputusan pada Kondisi Tidak Pasti: 

Terdapat beberapa teknik moderen untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan pada kondisi tidak pasti. Yang terpopuler antara lain: analisis resiko, pohon keputusan, dan teori preferensi.

Analisis Resiko:

Manajer yang mengikuti pendekatan ini menganalisis ukuran dan sifat risiko yang terlibat dalam memilih tindakan tertentu. Misalnya, saat meluncurkan produk baru, seorang manajer harus menganalisis secara hati-hati masing-masing variabel berikut biaya peluncuran produk, biaya produksinya, investasi modal yang dibutuhkan, harga, ukuran pasar potensial dan persentase pasar.

Analisis resiko melibatkan penilaian resiko kuantitatif dan kualitatif, manajemen risiko dan komunikasi risiko dan memberi manajer pemahaman yang lebih baik mengenai resiko dan manfaat yang terkait dengan tindakan yang diusulkan. Keputusan tersebut merupakan trade-off antara risiko dan manfaat yang terkait dengan tindakan tertentu dalam kondisi ketidakpastian.

Pohon Keputusan:

Teknik pohon keputusan dianggap sebagai salah satu cara terbaik untuk menganalisa sebuah keputusan. Pendekatan pohon keputusan mengandung grafis dari  alternatif  tindakan dan kemungkinan hasil dan risiko terkait dengan setiap tindakan. Dengan menggunakan diagram “pohon” yang menggambarkan titik-titik keputusan, setiap kejadian (event) dan probabilitas dalam tindakan, teknik pengambilan keputusan ini memungkinkan pengambil keputusan melacak jalur optimal atau tindakan (course of action).

Teori Preferensi atau Utilitas:

Ini adalah pendekatan lain dalam pengambilan keputusan dalam kondisi ketidakpastian. Pendekatan ini didasarkan pada anggapan bahwa sikap individu terhadap resiko bervariasi. Beberapa individu bersedia mengambil hanya risiko yang lebih kecil (“risk averters“), sementara yang lain bersedia mengambil resiko lebih besar (“gamblers“).

Misalnya, jika ada kemungkinan 60 persen keputusan benar, mungkin masuk akal jika seseorang mengambil risiko. Ini mungkin tidak selalu benar karena individu tersebut mungkin tidak ingin mengambil risiko, karena kemungkinan keputusan salahnya adalah 40 persen. Sikap terhadap risiko berbeda dengan kejadian, pribadi orang dan posisi.

Manajer level atas biasanya mengambil risiko yang sangat besar. Namun, manajer yang sama yang membuat keputusan yang mempertaruhkan uang perusahaan jutaan rupiah dalam projek tertentu dengan peluang keberhasilan sebesar 75 persen tidak mungkin melakukan hal yang sama kalau menggunakan uang mereka sendiri.

Selain itu, seorang manajer yang bersedia mengambil risiko 75 persen dalam satu projek tersebut mungkin tidak mau melakukannya pada projek lain. Demikian pula, seorang eksekutif puncak dapat meluncurkan sebuah kampanye periklanan yang memiliki peluang sukses sebesar 70 persen namun mungkin memutuskan untuk tidak berinvestasi di pabrik dan mesin kecuali jika  probabilitas kesuksesan lebih tinggi dari 70 persen.

Meskipun sikap manusia terhadap resiko bervariasi, dua hal pasti terjadi:

Pertama, sikap terhadap resiko berbeda dengan situasi, yaitu risk aveters dalam beberapa situasi dan gambles di situasi lainnya.

Kedua, beberapa betul-betul tidak mau ambil resko tinggi dan lainnya sangat suka mengambil resiko tinggi untuk mengambil risiko, sementara yang lain memiliki keengganan rendah.

Sebagian besar manajer lebih suka menjadi risk aveters sampai batas tertentu, dan karenanya mungkin juga melepaskan peluang. Bila taruhannya tinggi, kebanyakan manajer cenderung menjadi pengambil risiko; Bila taruhannya kecil, mereka cenderung menjadi gamblers.

Jangan lihat tutorial perhitungannya di:

Okey sekian dulu pembahasan mengenai pengambilan keputusan dalam berbagai kondisi, tekniknya akan menyusul ditulisan berikutnya. Happy sharing. Jangan lupa untuk membaca materi Teori Pengambilan Keputusan lainnya seperti:

Pengambilan Keputusan dan Pembuatan Kebijakan

Big Data Untuk Pengambilan Keputusan Bisnis