Hai shareaddicts, kali ini saya ingin bedah buku bacaan bagus mengenai SMART CITY. Buku ini adalah karya Ahmadjayadi, Subkhan dan Wiradinata (2016) dengan Judul Melesat atau Kandas? New INDONESIA dari Smart City Menuju Smart Nation. Terbitan Elex Media Komputindo dan Citiasia center for smart nation. Yuk Simak!

Smart City READINESS

Mewujudkan New Indonesia sebagai bangsa yang maju, sejahtera dan pintar (smart nation) bukanlah hal mudah. Indonesia akan menjadi smart nation jika seluruh daerah menjadi smart region yang terdiri dari 420  kabupaten (smart regency), 98 kota (smart city) serta  34 provinsi (smart province). Membangun smart city adalah mewujudkan ekosistem daerah yang lebih layak tinggal memiliki kultur daerah yang kreatif, dan harus memenuhi prinsip-prinsip keberlanjutan serta dengan ciri khas dapat memanfaatkan teknologi sebagai faktor enabler. Berbagai dimensi yang harus menjadi smart diantaranya adalah tata kelola irokrasi (smart governance), pemasaran daerah (smart branding), perekonomian (smart economy), ekonomi pemukiman penduduk (smart living), lingkungan masyarakat (smart society) dan pemeliharaan lingkungan (smart environment).

Smart city readiness terdiri atas 5 elemen penting, yaitu: 1) nature sebagai elemen dasar (enabler), 2) structure , 3) infrastructure dan 4) suprastructure  sebagai pilar strategis pembangunan (driver), 5) culture sebagai mediator untuk mewujudkan sebuah ekosistem smart city. Idealnya, pemerintah pusat haruslah mengetahui kesiapan dari kota-kotanya untuk menjadi smart city agar dapat mengetahui positioning masing-masing daerah terhadap daerah lain secara nasional dan jika perlu dilakukan benchmarking dengan kota-kota smart city di berbagai belahan dunia. Smart city bukanlah suatu konsep pembangunan yang bisa copy paste dari daerah lain atau dari negara lain. Implementasi smart city haruslah mempertimbangkan berbagai aspek dan nilai-nilai kearifan lokal.

Nah pada kesempatan ini, kita akan berfokusi dulu untuk memahami apa sih pengertian SMART CITY dan turunannya yang dibahas pada Bab 4 di buku yang sama.

Banyak sekali pihak yang memadankan kata smart city dengan smart region (daerah pintar), begitu pula penulis. Lalu bagaimana dengan kondep pembangunan bangsa pintar atau smart nation? di era digital ini, dimana data dalam bentuk paling abstrak sekalipun dapat dinilai sangat berharga (baca:BIG DATA), konsepsi smart nation adalah ultimate goals negara-negara di penjuru dunia.

Mewujudkan smart city dilakukan melalui 6 elemen utama:

  1. Tata Kelola pemerintahan (smart governance)
  2. Branding daerah pintar (smart branding)
  3. Ekonomi pintar (smart economy)
  4. Hidup pintar (smart living)
  5. Masyarakat pintar (smart community)
  6. Lingkungan pintar (smart environment)

Tata Kelola pemerintahan (smart governance)

Smart governance diterjemahkan menjadi Tata Kelola Pintar. Selama ini kita sudah mengenal istilah GCG (Good Corporate Governance/ tata kelola yang baik). Smart governance diartikan sebagai tata kelola birokrasi pemerintah yang pintar yang juga berkaitan erat dengan pelaksanaan good government sebagai sebuah tata kelola birokrasi pemerintahan yang baik. Tujuan smart governance adalah terciptanya manajemen birokrasi yang efektif dan efisien dan berjalannya fungsi pemerintah daerah sebagai lembaga pelayanan publik yang efektif, transparan dan bertanggung jawab.

Framework SMART Governance terdiri dari: Birokrasi (keadilan, transparansi, akuntabilitas), Kebijakan (inistiatif, kepemimpinan, dampak), Jasa (produk, jasa, administrasi)

Branding kota Pintar (smart city branding)

Smart city branding ditempatkan di kedua karena tidak mungkin daerah membangun infrastruktur fisik, digital, dan sosial sendirian dengan mengandalkan dana APBD. Membangun daerah perlu melibatkan banyak pihak melalui berbagai skema pembiayaan atau skema pembiayaan lainnya. Smart city branding bertujuan untuk membantu daerah mempercantik diri agar menarik bagi pihak-pihak untuk ikut berpartisipasi dalam proses pembangunan baik dalam smart city readiness maupun membangun smart city pada elemen-elemen tertentu.

Framework SMART Branding terdiri dari: Bisnis (perdagangan, investasi, kreatif), Tampilan (batas, landmark, signage), Tourism (tujuan, amenities, hospitality)

Ekonomi Pintar (Smart Economy)

Agar perekonomian suatu daerah dapat tumbuh dengan cepat, perlu dibangun sebuah ekosistem yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Tiga dimemsi ekonomi pintar tersebut terdiri dari pembangunan sektor industri, dukungan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan dukungan fasilitas perputaran transaksi di masyarakat.

Framework SMART Economy: Industri (primer, sekunder dan tersier), Transaksi (e-money, keuangan, e-commerce), Welfare (pendapatan, empowerment, employment).

Hidup Pintar (Smart Living)

Smart living adalah gambaran dari sebuah lingkungan tempat tinggal yang pintar bagi penduduknya. Dimensi utama dari smart living antara lain adalah kehidupan yang harmoni, kehidupan yang sehat, dan didukung dengan alat transportasi yang mudah, murah, dan nyaman (mobility).

Framework SMART Living: Harmoni (residential. commercial, recreational), Mobility (individual, public, logistik), Kesehatan (makanan, healthcare, olahraga)

Masyarakat Pintar (Smart Society)

Pembahasan mengenai smart society sangat berkaitan dengan smart living. Smart society adalah situasi dimana masyarakat semakin berherak menuju ekosistem sosi-teknis dimana dimensi fisik dan virtual kehidupan terjalin lebih intens. Namun digaris bawahi, ekosistem ini dapat menciptakan sebuah keseimbangan dengan mekanisme sosial masyarakat modern yang digital kekinian dapat menghargai suatu perbedaan.

Framework SMART Society: Komunitas (individu, sosial, digital), Keamanan (kehidupan , kesejahteraan, bencana), Pembelajaran (formal, informal, inklusif)

Lingkungan Pintar (Smart Environment)

Manajemen tata kelola lingkungan (smart environment) paling tidak dilakukan terhadap tiga aspek penting yaitu perlindungan lingkungan, manajemen pengelolaan limbah dan sanitasi (waste), serta pengelolaan energi.

Framework SMART Enviroment: Proteksi (air, udara, minyak), Energi (efisiensi, tanggung jawab, keberlanjutan), Sanitasi (rumah tangga, industri, ruang publik).

Well setelah membaca keseluruhan isi buku ini, saya benar-benar merasa lebih ringan, apa yang saya cari selama ini dibahas tuntas dengan bahasa yang mudah namun tetap mengikuti kaidah bahasa akademik. Tidak salah pak Habibie bersedia memberikan pengantar. This book is SUPERB.

Nah kalo teman-temen tertarik dengan Smart City, jangan lupa baca hasil-hasil penelitian berikut yah:

Kumpulan Penelitian Mengenai Smart City Bandung